Rabu, 23 Juli 2014

Tentang Pilpres Kali Ini

Pada 22 Juli 2014 ini, pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla akhirnya ditetapkan oleh KPU sebagai pemenang pemilihan presiden Republik Indonesia masa bakti 2014-2019. Telah kita ketahui bersama, pasangan nomor urut 2 ini mengalahkan Prabowo - Moh. Hatta dengan angka 70.997.833 (53,15%) berbanding 62.576.444 (46,85%) suara sah. Cukup tipis saya rasa, yang mengindikasikan bahwa kedua pasangan ini memang pantas menjadi pemimpin negara ini. Kedua pasangan ini sama-sama diharapkan mampu membawa bangsa Indonesia menjadi semakin baik. Yah, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada pada diri mereka tentu saja, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.

Minggu, 02 Desember 2012

Clorot

Clorot sebelum dimakan
Yap. Lagi-lagi tentang makanan. Kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai clorot. Clorot? Ya, clorot. Clorot merupakan jajanan pasar khas dari daerah Purworejo. Dibuat dari adonan tepung beras, gula jawa, santan dan lain sebagainya, lalu dibungkus dan kemudian dikukus.


Dulu, pertama kali 'kenal' makanan ini dari seorang teman SMA bernama Iska a.k.a. Jinto yang rumahnya di bagian timur kabupaten Kebumen, hampir berbatasan dengan kabupaten Purworejo.

Minggu, 05 Agustus 2012

Terkenang Mendoan

Entah mengapa di saat puasa seperti ini tiba-tiba teringat akan mendoan. Mendoan yang merupakan makanan khas dari Jawa Tengah bagian barat, seperti Banyumas, Cilacap, Tegal dan sekitarnya termasuk Kebumen, daerah asal saya, rasanya amat gurih dan nikmat. Apalagi jika disajikan hangat bersama cabai rawit hijau maupun sambal kecap. Hmm... Laparrr... #ups.

Tempe mendoan nama lengkapnya, tapi sering disebut mendoan. Merupakan tempe tipis yang digoreng setengah matang menggunakan tepung berbumbu, tepung yang menyelimuti tempe tersebut juga lebih tebal dari pada tempe bertepung lainnya. Itulah definisi dari tempe mendoan di tempat saya. Di daerah Wonosobo, tempe tersebut lebih dikenal dengan tempe kemul. Kemul dalam bahasa Indonesia berarti selimut. Dinamai tempe kemul mungkin karena bentuknya seperti selimut. Nah, di Purwokerto sendiri mendoan lebih luas lagi artinya. Dulu sewaktu main ke sana, menyebut tempe goreng, apapun jenisnya, menggunakan kata mendoan. Dengan kata lain, tempe digoreng sama dengan mendoan. Berbeda kan, dengan di tempat saya?


Sabtu, 04 Agustus 2012

Ber'levitasi'ria di Pantai Bandengan

Yeah, Taekwondo UNS!
Di akhir tahun 2011, saya berkesempatan bermain ke Pantai Bandengan di kabupaten Jepara. Sebenarnya tujuan utama kami di Pantai Bandengan tersebut bukan untuk berwisata, tetapi melakukan survei tempat ke pantai tersebut untuk acara semacam outbond Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo UNS yang akan dilaksanakan awal tahun 2012. Sambil menyelam minum air, akhirnya kita survei sekalian bermain-main di sana. Sayang kan, kalau dilewatkan? Lagipula, panorama Pantai Bandengan itu sungguh memesona (baca posting sebelum ini).


Rabu, 04 Juli 2012

Asyiknya Berlibur di Pantai Bandengan Jepara



Asyik kan?
Liburan telah tiba! Bagi Anda yang masih bingung dengan destinasi wisata kali ini, tidak salah bila Anda berkunjung ke pantai Bandengan. Pantai Bandengan terletak tidak jauh dari ibu kota kabupaten Jepara. Hanya menempuh waktu sekitar lima belas menit menggunakan kendaraan pribadi dari pusat keramaian kabupaten yang terkenal akan ukiran kayunya ini, kita telah sampai di pantai yang putih nan bersih.

Tiket masuk yang hanya Rp 5.000,00 per orang ini tentunya sangat terjangkau. Apalagi pemandangan yang disuguhkan di pantai ini sangat menawan. Tidak saja pasir pantainya yang putih, birunya air laut dengan ombak yang tidak terlalu besar membuat kita tidak ragu untuk segera menceburkan diri ke dalam air. Wahana yang ada di pantai ini juga sangat beragam. Ada ban pelampung, kano, jetski, hingga banana boat yang akan membuat semakin betah berlama-lama di pantai ini.

Kamis, 14 Juni 2012

Pancuran Pitu yang Misterius

Pancuran Pitu
Sepertinya, saya baru saja kehilangan 'sesuatu' di Baturraden. Ya, lokawisata di lereng gunung Slamet ini mempunyai cukup banyak titik menawan yang harus dikunjungi, salah satunya ialah Pancuran Pitu. Nah, di sekitar Pancuran Pitu inilah saya merasa kehilangan sesuatu. Semasa masih SMP, saya pernah ke sini bersama rombongan keluarga besar dari kampung. Dan yang paling saya ingat, kami berbondong-bondong masuk ke dalam sebuah goa cadas yang cukup luas. Ya, goa cadas, bukan batu seperti goa-goa yang lain. Ini yang unik, selain ada stalaktit dan stalakmit yang semuanya terbentuk dari tanah cadas, di dalam goa tersebut terdapat dua aliran air, aliran air panas dan dingin! Sangat puas kami bermain di sana hingga lemas. Mungkin karena terlalu banyak orang di goa tersebut, sehingga kami harus berbagi oksigen, ditambah bau belerang dari air panas yang bersumber di Pancuran Pitu di atas goa ini.

Senin, 28 Mei 2012

Nonton Monkey to Millionaire

Monkey to Millionaire
Kemarin sore, tiba-tiba saja jiwa saya mendadak seperti menjadi mahasiswa lagi. Pakai kaos oblong, celana jeans dan sandal jepit, panas-panasan, dan hampir jingkrak-jingkrak. Hampir. Jingkrak-jingkrak saya ganti saja dengan manggut-manggut karena jaim. Yap, itu semua karena aksi Monkey to Millionaire yang manggung di lembah Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saya memang bukan seorang Million Street Monkey, sebutan penggemar fanatik band ini. Sebelum nonton konsernya pun, saya hanya tahu satu judul lagunya saja, Rules and Policy, lagu yang dijadikan andalan band tersebut sewaktu mengikuti kontes musik indie terbesar di negeri ini. Namun, satu lagu ini pula yang bisa menyeret jiwa ini untuk nonton konser band yang berasal dari Jakarta ini.