Minggu, 01 April 2012

Obat Serangan Serangga Tomcat

Akhir-akhir ini, serangga tomcat mendadak terkenal di negara kita. Sebelum muncul di berita-berita TV nasional, sebenarnya saya sudah mendengar ulah tomcat di wilayah Surabaya melalui jejaring sosial twitter. Pertama-tama sih, saya tidak terlalu peduli karena serangga ini sudah populer di wilayah kota Solo/Surakarta. Sewaktu kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta, banyak sekali teman saya yang kena serangan tomcat. Hampir semua yang saya kenal pernah terkena dompo (istilah Jawa untuk menyebut penyakit kulit akibat serangan tomcat, CMIIW). Bahkan, sekitar tahun 2007 yang lalu saya juga pernah merasakan cairan panas yang dikeluarkan oleh serangga yang katanya dapat membantu petani padi ini.

Meskipun banyak yang terkena dampa (orang Banyumasan menyebut ini), tetapi tomcat di kala itu tidak jadi setenar sekarang. Hal ini dianggap sebagai fenomena yang memang biasa saja, wajar jika seseorang terkena tomcat. Jika terkena, mereka cukup mengobatinya dengan obat-obat yang sangat sederhana. Saudara sepupu saya hanya menggunakan 'obat merah'. Ya, 'obat merah' yang biasa digunakan untuk luka berdarah. Cukup ditetes dan diratakan ke seluruh bagian yang luka karena tomcat. Teman saya, ada yang lebih cocok menggunakan tanaman hias lidah buaya. Daging (bagian dalam lidah buaya) cukup dioleskan ke bagian yang terluka. Orang-orang tua di desa saya juga banyak yang merekomendasikan lidah buaya sebagai obat serangan tomcat. Tidak seperti 'obat merah' yang menimbulkan efek perih pada luka, tanaman yang mempunyai nama latin aloevera ini menimbulkan sensasi dingin, sehingga lebih nyaman digunakan. Sewaktu kecil pun, saya menggunakan lidah buaya jika terkena dampa.
Belum lama ini, saya juga terkena lagi serangan tomcat, tapi tidak separah ketika masih kuliah di Solo. Di suatu pagi di Solo ketika bangun tidur, mata saya yang kiri tidak bisa terbuka. Selain itu, perih dan panas saya rasakan di kelopak mata saya. Setelah saya paksakan dan akhirnya bisa terbuka, ternyata kelopak dan sekitaran mata kiri saya bengkak dan terluka. Dampa!! Mengerikan sekali wajah saya saat itu, dan sakitnya...lumayan lah... Akhirnya hari itu saya hanya berdiam diri di kos dan bolos kuliah. :-D Teman-teman saya yang datang ke kos pun tidak saya temui karena saya khawatir mereka akan merasa jijik melihat saya.
Sore hari, pacar saya (ciyee.. dulu sih punya pacar) SMS dan menawarkan salep untuk mengobati dampa ini. Katanya, salep ini banyak dijual di apotek-apotek terdekat, harganya juga tidak terlalu mahal. Keesokan harinya, bengkak di mata kiri saya mulai mengempis dan beberapa hari setelahnya sudah sembuh total. Setelah kejadian itu, kalau saya terkena dampa lagi, saya lebih suka membeli salep yang ada di apotek, lebih efektif dan tidak ribet. Tidak perlu lah, saya menyebut merek salep ini, tanya saja sama apotekernya... :-)

1 komentar:

  1. wah saya juga kena mas tapi kejadiannya berbeda sama sampeyan waktu itu saya lagi naik motor lewat jalur pantura malam2 trus serasa ada binatang yang menemplok disamping/diklopak mata saya lalu saya pites tu binatang, orang kirain tu nyamuk atau sejenisnya, eee pas besok paginya kulit pipi atas tepatnya dibawah mata terasa seperti bekas terbakar gitu sampai tiga hari ga sembuh2 akhirnya terpaksa da kerumah sakit

    BalasHapus