Minggu, 05 Agustus 2012

Terkenang Mendoan

Entah mengapa di saat puasa seperti ini tiba-tiba teringat akan mendoan. Mendoan yang merupakan makanan khas dari Jawa Tengah bagian barat, seperti Banyumas, Cilacap, Tegal dan sekitarnya termasuk Kebumen, daerah asal saya, rasanya amat gurih dan nikmat. Apalagi jika disajikan hangat bersama cabai rawit hijau maupun sambal kecap. Hmm... Laparrr... #ups.

Tempe mendoan nama lengkapnya, tapi sering disebut mendoan. Merupakan tempe tipis yang digoreng setengah matang menggunakan tepung berbumbu, tepung yang menyelimuti tempe tersebut juga lebih tebal dari pada tempe bertepung lainnya. Itulah definisi dari tempe mendoan di tempat saya. Di daerah Wonosobo, tempe tersebut lebih dikenal dengan tempe kemul. Kemul dalam bahasa Indonesia berarti selimut. Dinamai tempe kemul mungkin karena bentuknya seperti selimut. Nah, di Purwokerto sendiri mendoan lebih luas lagi artinya. Dulu sewaktu main ke sana, menyebut tempe goreng, apapun jenisnya, menggunakan kata mendoan. Dengan kata lain, tempe digoreng sama dengan mendoan. Berbeda kan, dengan di tempat saya?


Sewaktu kecil, saya dan teman-teman, Candra, Aan, Ojan, Bonik hampir setiap hari minggu bersepeda ke pantai. Sebagai informasi, rumah saya hanya berjarak kurang lebih 3 km dari pantai Petanahan. Sesampainya di sana, kita pasti menuju warung langganan dan membeli nasi megana dan mendoan untuk sarapan. Setelah itu, baru lah kita bermain ombak. Membeli mendoan di warung tersebut juga sangat sering dilakukan oleh keluarga besar jika kami main ke pantai Petanahan. Apalagi saat lebaran tiba, saudara-saudara yang merantau di Jakarta atau di tempat lain pasti mengajak ke pantai dan makan mendoan. Favorit kami, mendoan dimakan dengan sambal kecap. Kecap yang digunakan juga khas Kebumen, kecap Kentjana.

Lebaran kemarin ada cerita yang cukup menggelitik tentang mendoan. Salah satu personil keluarga besar kami yang dibesarkan di Jakarta enggan ikut makan mendoan ini. Alasannya, makanan-makanan yang dijual di warung tersebut, termasuk mendoan tidak dimasak secara higienis, menurutnya. Tahu sendiri lah, warung kecil tepi pantai di sebuah desa di Indonesia kebanyakan seperti apa. Tapi, tidak semestinya juga menghakimi makanannya tidak higienis. Buktinya, setelah dipaksa sama istrinya yang notabene merupakan personil baru di keluarga besar kami, dia akhirnya ikut makan mendoan juga, dan... minta tambah. Hahaha...

Sekarang di Semarang dan terkenang akan mendoan.

1 komentar: