Rabu, 23 Juli 2014

Tentang Pilpres Kali Ini

Pada 22 Juli 2014 ini, pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla akhirnya ditetapkan oleh KPU sebagai pemenang pemilihan presiden Republik Indonesia masa bakti 2014-2019. Telah kita ketahui bersama, pasangan nomor urut 2 ini mengalahkan Prabowo - Moh. Hatta dengan angka 70.997.833 (53,15%) berbanding 62.576.444 (46,85%) suara sah. Cukup tipis saya rasa, yang mengindikasikan bahwa kedua pasangan ini memang pantas menjadi pemimpin negara ini. Kedua pasangan ini sama-sama diharapkan mampu membawa bangsa Indonesia menjadi semakin baik. Yah, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada pada diri mereka tentu saja, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.


Setelah kedua kubu saling serang dalam kampanye dan para pendukung yang saling caci di dunia maya, semoga pengumuman hasil pilpres ini akan mengakhiri semua tuduhan tidak baik mengenai keduanya. Pada masa kampanye kemarin saya jenuh dan cenderung muak setiap kali membuka akun facebook/twitter, selalu saja ada yang membagikan hal-hal negatif mengenai kedua pasangan ini. Saling hina, saling tuduh, bahkan mungkin sudah saling fitnah. Apakah berita yang kalian sebarkan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya? Pasangan capres-cawapres kalian sempurna? I don't think about that... :-p

Puncaknya, pada masa tenang ibu saya mengirim pesan singkat untuk tidak memilih capres pasangan nomor urut 2 karena isu SARA yang saya yakin teman-teman sudah paham isinya apa. Perih, sedih dan sangat kecewa. Seketika itu juga saya telefon ibu, mengingatkan bahwa kita sedang menjalani ibadah puasa, sangat tidak pantas menyebarkan kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan seperti itu. Untung saja ibu bisa memahami dan menyebutkan bahwa beliau hanya 'meneruskan' pesan singkat kepada anak-anaknya. Ya, meneruskan pesan singkat, bukan inisiatif ibu saya sendiri mengirim pesan tersebut. Saya yakin itu.

Saya bukannya apatis tentang pemilihan presiden ini. Hanya tidak terlalu suka untuk koar-koar pilihan saya, apalagi sampai ikut-ikutan berbagi kabar yang tidak jelas asalnya. Asal tahu saja, setelah memiliki hak 'suara' untuk menentukan nasib daerah dan bangsa ini, saya hampir selalu berpartisipasi menggunakannya. Kalau tidak salah saya hanya tidak ikut 'meramaikan' pemilihan gubernur Jateng dan pemilihan kepala desa saya untuk edisi terakhir beberapa waktu yang lalu karena keterbatasan waktu dan jarak. 

Tidak bisa dipungkiri, awalnya memang sempat ragu untuk memilih. Menurut saya, kedua pasangan ini tidak ada yang ideal untuk memimpin bangsa. Entah kenapa, sudah dari dulu saya tidak ada rasa ketertarikan untuk memilih Prabowo, biasa saja. Untuk Moh. Hatta, sejak beliau menjadi menteri perhubungan saya sudah tidak suka, juga entah kenapa. Namun setelah melihat sekilas debat capres-cawapres, lumayan baik juga sepertinya. Jusuf Kalla, sama seperti Prabowo, saya tidak ada ketertarikan untuk memilih beliau. Kredit khusus saya berikan pada Joko Widodo. Saya kehilangan respect pada beliau sejak dicalonkan menjadi calon presiden. Baiknya beliau menyelesaikan dulu jadi gubernur DKI, baru maju jadi calon presiden. Sudah dari awal saya sudah menyatakan tidak akan memilih beliau kalau maju sebagai calon presiden pada pilpres kali ini. E lha dalah, capres-cawapresnya hanya ada dua pasang ... :-D

Dalam menggunakan hak pilih, sebisa mungkin saya mencari informasi mengenai calon-calon pelayan rakyat ini. Setelah menilai, menimbang dan meresapi dengan rasa barulah saya menentukan pilihan yang paling tepat menurut saya. Untuk kali ini, pilihan akhirnya saya jatuhkan pada Prabowo - Moh. Hatta. Tidak ada alasan lain dalam memilih pasangan capres-cawapres nomor urut 1 (satu) ini selain karena soal rasa yang ada dalam diri saya. Sudah, itu saja.

Ya sudahlah, pilpres sekarang sudah berlalu. Hasilnya pun sudah diumumkan resmi oleh KPU. Tinggal kita tunggu saja pelantikannya bulan Oktober mendatang. Semoga Joko Widodo dan Jusuf Kalla benar-benar amanah dalam melayani masyarakat lima tahun ke depan. Semoga Prabowo dan Moh. Hatta bisa menerima hasil ini. Apabila tidak puas dengan hasil ini silakan gugat ke Mahkamah Konstitusi sesuai regulasi, meskipun tidak akan mengubah kondisi. Apapun yang terjadi, semoga NKRI tetap utuh, aman, makmur, adil, sejahtera tidak kurang suatu apa.

Last but not least, Joko Widodo hanyalah manusia biasa, bukan manusia setengah dewa. Semoga beliau benar-benar menjadi pemimpin yang jujur dan apa adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar